Trafo yang digunakan adalah trafo daya dengan gulungan sekundernya dengan center-tap (CT). Dalam penggunaannya disini dibalikan yaitu gulungan sekundernya yang ada CT menjadi gulungan primer dan gulungan primer yang 110V/220V menjadi gulungan sekunder.
Output dari inverter ini berbentuk gelombang persegi oleh karena itu tegangan sekunder RMS yang identik dengan tegangan puncak. Tegangan sekunder (Us) yang diperlukan dapat dihitung dengan rumus :
Us = Um/Up X 12V
Dimana =
1. Um = Tegangan normal jaringan listrik (PLN).
2. UP = Tegangan sekunder puncak yang diperlukan.
3. 12V = tegangan sumber daya inverter.
Jika alat listrik yang memerlukan tegangan tegangan RMS 240V, tegangan puncak 240V, jadi jika kita menggunakan trafo daya yang gulungan primernya 240V maka gulungan sekundernya harus yang mempunyai 2 gulungan 12V dengan CT.
Jika alat-alat seperti cukur listrik, lampu kilat lampu TL yang kecil Dan Lain-Lain dapat kita hidupkan. Rangkaian Inverter ini menerapkan sistem osilator terpisah, dengan tujuan agar frekuensi yang diinginkan dapat dengan mudah diatur sesuai dengan kebutuhan.
Rangkaian osilatornya terdiri atas sebuah IC type 555 yang dirangkai sebagai rangkaian Multivibrator astabil. D1 (in 4148) berfungsi agar gelombang persegi yang dihasilkan adalah konstan sekitar 50%. Output IC 555 diumpankan ke basis transistor T1.
Outputnya (arus kolektor) sebagian mengalir ke gulungan primer trafo ( setengah gulungan ) dan sebagian lagi ke basis transistor T2 lewat R4, output dari T2 ini akan mengalir ke setengah gulungan yang lain dari trafo tersebut. Arus dari output T2 ini berlawanan dengan output dari T1, pada saat output T1 positif (+), maka output dari T2 (-) dan demikian sebaliknya.
Dioda Zener D4 dan D5 berfungsi sebagai pelindung dari transistor T1 dan T2 terhadap kenaikan tegangan mendadak yang dibangkitkan oleh trafo. Dengan adanya arus yang berubah-ubah pada gulungan primer dari trafo tersebut maka pada gulungan sekunder bangkit tegangan AC,output ini lah yang kita butuhkan.
Jika diperlukan arus AC langsung dapat kita gunakan, sedang jika diperlukan arus DC tinggal menambah rangkaian penyearah arus (Rectifier). Dalam hal ini C1 dipilih yang berkapasitas 330nF dan potensio P1 diatur hingga diperoleh frekuensi 50-60 Hz. Pada lampu TL jika dihubungkan dengan jaringan listrik umum (PLN)240V, maka akan menerima tegangan sumber daya sebesar 340V untuk nyala yang normal. Dengan menggunakan rumus diatas maka Us yang diperlukan dan dapat dihitung dan menghasilkan tegangan sekitar 8 atau 9V.
Sedang frekuensi yang diperlukan jika lebih tinggi dari 50Hz akan menghasilkan nyala yang efisien. Jika C1 ini berkapasitas 56nF maka osilator akan berfrekuensi sampai 250Hz, dengan frekuensi yang makin tinggi , rugi besi pada trafo semakin besar, ladi tidak efisien.
Besarnya arus pada trafo tergantung pada arus yang diperlukan oleh beban. Untuk memperoleh output yang lebih besar dapat kita capai dengan memilih trafo yang sesuai, mengganti T1 dan T2 dengan daya yang lebih besar dan dengan mengurangi nilai R3 dan R4 (minimal 120Ω).